Ada Apa Di Purwakarta?

by - Februari 02, 2019



Assalamualaikum...


Halo chingu.
Sepertinya aku bakalan punya sapaan baru (chingu/chinguya) maklum ya lagi demam sama Winner hehe.

Aku mau berbagi petualangan aku and friends. Ya lagi-lagi meskipun cerita ini udah agak lama, tapi semoga masih bermanfaat. Aku pergi ke Purwakarta pada tanggal 15 Desember 2018 (hehe sudah lama ya ternyata). Kami sebenernya pergi dadakan (bisa dibilang dadakan, meskipun sudah ada rencana mau ke Purwakarta tapi ga tau tanggal tepatnya), dan sehari sebelum keberangkatan baru janjian.

Aku, Meri, Rida dan Sofyan (yup! Segitu saja yang berangkat). Kami berangkat dari titik keberangkatan masing-masing, Aku dari Hotel di daerah Jakarta Barat (karena ada acara dihari sebelumnya), Rida sama Meri dari kosan, Sofyan dari rumahnya. Sofyan sebenernya yang duluan sampe stasiun Tanjung Priok, aku, Meri sama Rida naik dari stasiun Kemayoran (karena kita lama? Ntahlah 😊). FYI, kami ke Purwakarta naik kereta lokal yang sangat ramah kantong mahasiswa namanya Walahar Ekspress (Rute: Jakarta – Purwakarta, ditempuh sekitar 3 – 4 jaman).

Sesampainya di stasiun Purwakarta kami ke Alfamidi, beli jajanan, beli sandal karena aku waktu itu pakai wedges kesananya wkwk. Duduk sebentar di alfamidi, terus langsung cari musholla (di museum deket stasiun). Sementara Sofyan sholat, aku, Meri & Rida langsung masuk ke Museum (apa namanya ya, lupa) samping kiri ketika keluar dari wilayah stasiun, seberang Alfamidi. Museum disana gratis loh! Dan menurut aku keren banget didalamnya, ada sepeda begitu yang ada layarnya, ada wayang, ada layar besar serta kameranya dan masih banyak lagi.

Setelah puas di museum itu, kami pergi ke sebelah kirinya (museum satunya), ntahlah aku juga bingung harus menyebutnya apa. Disitu juga keren loh, ada bermacam-macam barang-barang dari seluruh Indonesia dan pastinya sama-sama gratis. Tujuan kami sebenarnya adalah air mancur Sri Baduga yang hanya dibuka saat malam minggu dan kadang ditutup dalam keadaan-keadaan tertentu (seperti saat kemarau dan lain-lain). Tapi kata pepatah sambil menyelam minum air, ya lebih baik menikmati yang lain juga selagi itu ga menghambat tujuan awal (yakan?). Ada baiknya sebelum pergi kesana, riset terlebih dahulu. Ketika hendak kesana cari tahu kapan waktu dibukanya, apakah air mancur saat kalian hendak kesana dibuka (bisa tanya di google maps di kolom diskusi. Pengalaman aku, kolom diskusi itu sangat membantu, karena semua orang bisa memberikan komentarnya dan cepat).

Oke, setelah main-main di museum, kami pergi ke sekitar alun-alun, tempatnya ga jauh dari museum itu, bahkan dekat dengan masjid (di lingkungan PLN). Berhubung kami belum makan siang, kami pun memilih sate Maranggi, yang ketika mendengar saja sudah bikin aku ngiler. OMG tiada kenikmatan selain traveling dan makan di pinggir jalan. Suasananya beda. Btw harga sate Marangginya Rp. 25000,- per porsi kalau ga salah (agak lupa), itu sudah sama nasi/ uli. Dan tahukah? Abis makan sate itu aku langsung sakit kepala, sampe hampir tumbang, ngeluh mulu pas istirahat di masjid wkwk. Tapi pusing ga pusing, mau ga mau harus terus berjalan, sudah jauh-jauh masa au pulang ya kan.

Sehabis makan sate, aku sama yang lain jalan-jalan ke alun-alun, taman disana ramai ketika sore hari. Mereka banyak melakukan aktivitas entah untuk bersantai, berolahraga atau menunggu air mancur buka seperti aku. Kami berjalan mengelilingi area yang lumayan agak jauh, ternyata belum buka (baru buka sehabis magrib). Jadi kami putuskan untuk istirahat di Masjid area PLN sampai magrib tiba.

Setelah selesai magrib aku dan yang lain bergegas menuju area Air Mancur Sri Baduga, disana sudah ramai dari sebelum magrib, bahkan ketika aku datang, area depan dan belakang pusat pertunjukan air mancur sudah ramai dipenuhi pengunjung. Terpaksa aku berada di sisi samping dan menikmati pertunjukannya. Setelah selesai pertunjukan sesi satu sebenarnya kami mau tetap disana agar dapat melihat sesi dua, tapi masih ragu karena kami kira hari itu hanya ada satu sesi dan yang lebih membuat kami ragu, ketika pertunjukan selesai petugas langsung mengondisikan pengunjung agar keluar. Akhirnya kami keluar melalui pintu yang berbeda dengan pintu masuk tadi.
Tidak sampai disitu, kami hari itu sangat beruntung. Ternyata masih ada pertunjukan yang kedua dan yang membuat kami bahagia, ketika pintu keluar masih dibuka banyak yang menerobos lewat sana (ya, kami sih ikut-ikut saja, biar dapat tempat depan) hehe jangan ditiru ya, please. Nah beruntungnya benar, kami dapat tempat yang paling depan depat dengan tampak depan patung hihi. Menikmati pertunjukan untuk yang kedua kalinya di sisi yang berbeda, kalau sesi satu tadi kami berada disamping dan musik tidak terdengar karena kalah dengan suara air, saat sesi kedua suara musik terdengar meskipun tidak terlalu kencang. Hal ini juga yang membuat pertunjukan air mancur di Purwakarta berbeda dengan Lapangan Banteng, meskipun lebih bagus di Purwakarta tapi kekurangannya adalah musik yang tidak dapat didengar di semua sisi, hanya sisi tertentu yang bisa mendengar musik tapi tidak terlalu jelas.

Setelah puas dengan pertunjukan air mancur yang merupakan tujuan utama kami ke Purwakarta, ternyata malam itu sedang ada car free night (wah I’m so surprised). Banyak makanan yang dijual disana dan barang-barang, kami langsung singgah di Alfamidi mengingat inilah tujuan kami untuk beristirahat. Aku membeli minuman berkarbonasi karena kepala masih pusing efek sate Maranggi sepertinya. Aku dan yang lain pun membeli seblak, sosis dan kawan-kawan serta snack (pastinya patungan), enaknya jalan bareng-bareng ya gini, bisa patungan jadi bisa coba semua makanan dan murah hehe.

Makan-makan sudah, foto-foto sudah, saatnya berpusing ria untuk mencari tempat tidur. Aku dan teman-teman sepertinya sudah meremehkan satu hal ini, sebelumnya kami tidak terpikir sama sekali, karena dipikir bisa tidur dimana saja, ternyata di Purwakarta hal itu tidak berlaku. Purwakarta adalah salah satu kabupaten yang masih jarang dikunjungi oleh wisatawan dari luar kota, akses kesana pun terbilang sulit, meskipun sudah ada kereta lokal namun tidak ada kereta pulang di hari yang sama (kereta pulang ke Jakarta baru ada di hari setelahnya yaitu jam 05.30 WIB). Itulah PR nya, kami harus tidur dimana?

Setelah putus asa mencari tempat bermalam, karena disana tidak ada Hostel, untuk menginap di stasiun pun tidak memungkinkan, kami memutuskan untuk berjalan karena mungkin ada pom bensin disekitar sana. Keberuntungan menghampiri, setelah berjalan lumayan agak jauh, kami menemukan wifi zone, oke juga untuk bermalam, kami bisa bergantian sebentar untuk tidur. Awalnya kami hanya duduk di kursi depan, tapi ketika aku membeli voucher dan sempat ditanya oleh satpam disana (dari mana asal kami, akupun menjawab dari Jakarta, kebetulan salah satu satpam pun dari Jakarta). Satpam tersebut mempersilakan kami untuk istirahat di Musholla, Alhamdulillah keberuntungan lagi menghampiri 😊. Rencana awal yakni bergantian untuk tidur, tapi kami bisa istirahat masing-masing sambil rebahan.

Ketika subuh tiba, aku dan yang lain bergegas pergi ke stasiun dan membeli tiket. Dengan wajah lelah menunggu kereta, tidur di kereta, hingga sampai kembali di Jakarta degan selamat. Momen berpetualang sehari di Purwakarta ini tidak dapat dilupakan dengan mudah, sensasi menjadi backpacker yang membuat aku ingin lagi dan lagi berpetualang dengan budget seminim mungkin 😊. Perjalanan selanjutnya adalah pergi ke Bandung, yang ternyata kesampaian dengan cepat. Bahkan menjadi solo traveling pertamaku 😊

Intinya jangan banyak wacana, yang dadakan lebih asyik untuk dinikmati.


You May Also Like

0 Comments