Sebuah Proses Menemukan "Jalan" Lewat LinkedIn

by - Mei 20, 2019


Jujur aja, aku adalah tipe orang yang selalu merasa ingin tahu. Sampai ingin tahunya, aku banyak mencoba berbagai media sosial hanya semata-mata ingin tahu apa yang  ada didalamnya. Berapa banyak media sosial yang kupunya? Entahlah, akupun lupa jumlahnya.

Hal ini berlaku untuk LinkedIn. Awalnya aku membuat akun LinkedIn bukan karena aku sudah tahu apa fungsi dari LinkedIn tersebut. Ketika itu aku masih berada di Madrasah Aliyah dan memang aku banyak membuat akun-akun yang aku temui di google ketika aku berada di Warnet (karena memang ketika itu tidak boleh membawa hp ketika di pondok pesantrean).

Hingga akhirnya aku mengetahui apa fungsi dari LinkedIn setelah hampir tiga tahun aku membuatnya. Memang sangat terasa fungsi dari LinkedIn yang menurutku sedikit banyak merubah hidupku, keseharianku. Bahkan beberapa mereka para profesionl dibidang kerja selalu menyampaikan di akunnya, "Ingat jejak digital saat ini adalah nyawa kita ketika mencari pekerjaan, para HRD akan tahu bagaimana sisi lain dari diri kalian hanya dengan melihat jejak digital". Kurang lebih seperti itulah penjelasan yang pernah diberikan oleh orang-orang profesional. Ya! Aku setuju dengan satu hal ini. Beberapa kali, bahkan sering aku menemui banyaknya penipuan-penipuan yang terjadi di media sosial (seperti tiket nonton konser K-Pop), dan bahkan yang sempat booming Kasus penganiayaan seorang anak di Kalimantan Barat yang berujung penyesalan bagi netizen terutama di Twitter karena telah membelanya habis-habisan. Karena apa? Semua itu terungkap karena jejak digital yang sangat mudah untuk ditemukan di era sekarang.

Untuk kita (sebenarnya pengingat bagi diri sendiri), yang memiliki jejak digital yang bisa dibilang kurang pantas, ada baiknya kita memperbaikinya dari sekarang. Jika dulu sudah terlanjur melakukan hal-hal buruk? Mau bagaimana lagi? Kita tidak akan bisa merubah masa lalu, tapi kita dapat memperbaiki masa depan kita. Toh kita sudah memiliki niat berubah dan melakukannya secara nyata bukan hanya melalui omongan. Beberapa orang memang mencibir "Halah, pencitraan banget". Ya, memang benar inilah adalah pencitraan kita dalam membangun cintra diri yang lebih baik. Ambil hikmah dibalik omongan-omongan tersebut. Semoga mereka akan menerima perubahan dari diri kita yang berusaha menjadi lebih baik.

LinkedIn, thanks for being my way to the good proccess
Semoga diakhir tahun perkuliahanku ini, LinkedIn menjadi salah satu jalanku menuju hasil yang lebih baik dari sebuah proses. Bukan hanya aku, tapi kita. Karena tidak ada proses yang selalu benar. Tapi semoga hasil dari berproses akan menjadi lebih baik.

You May Also Like

4 Comments

  1. Setuju,tanpa disadari atau tidak adanya media sosial merupakan salah satu ajang untuk pencitraan diri :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan pastinya bermanfaat juga buat diri kita :)

      Hapus
  2. kita harus bijak menggunakan media sosial..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Karena kalau tidak, maka akan muncul istilah "senjata makan tuan" :)

      Hapus